Komunikasi orang tua-anak dengan Bahasa Indonesia, malu dengan tetangga jika berbahasa Madura
Bahasa daerah Madura sebagai salah satu kekayaan budaya, kini mulai jarang digunakan sebagai alat komunikasi sehari-hari. Bahkan dikhawatirkan muatan lokal tersebut terancam luntur karena dianggap sudah ketinggalan zaman.
Ironisnya, para orang tua malah justru berkomunikasi dengan anaknya mengunakan bahasa Indonesia. Sehingga bahasa Madura makin jauh ditinggalkan oleh generasi muda, karena mereka makin tidak paham dengan bahasa ibunya.
Ketua Dewan Pendidikan Sampang, Daud Bey menyatakan, dirinya sangat miris melihat perkembangan bahasa Madura yang mulai ditinggalkan oleh pengikut sukunya sendiri. Padahal bahasa daerah tersebut merupakan bagian dari jati diri dan karekteristik bangsa yang Bhinneka Tunggal Ika. Sehingga Dewan Pendidikan Sampang kini sedang berupaya melakukan langkah terobosan dengan berupaya menciptakan sistem pembelajaran Bahasa Madura yang mudah di tangkap anak usia dini.
Menurutnya, penyebab lunturnya bahasa Madura itu karena seringkali para orang tua menerapkan bahasa Indonesia kepada anaknya, hanya karena semata-mata malu terhadap tetangga sekitarnya. Sehingga perlu diciptakan sebuah metode pembelajaran baru agar bahasa Madura bisa diserap dan difahami secara mudah oleh para siswa di tingkat Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD).
"Dari hasil penelitian terhadap tiga SD, masing-masing SDN Gunung Sekar 1 dan 2, serta SDN Polagan. Sistem pembelajaran yang dibuat bukan hanya bertujuan memudahkan dalam mengerjakan soal mata pelajaran bahasa daerah, namun juga memberikan pemahaman pengunaan bahasa Madura yang baik dan benar," terang Daud, ditemui Sabtu (11/2).
Dia memaparkan, bahasa Madura saat ini telah terjadi pergeseran nilai di kalangan masyarakat setempat. Sehingga terjadi kesalahan pahaman dalam pengunaannya sehari-hari, bahkan terkesan dicampur aduk tanpa memperhatikan siapa yang diajak berkomunikasi.
"Sebenarnya bahasa Madura hampir sama dengan bahasa Jawa, dibagi menjadi tiga bagian dengan rincian, pertama bahasa enjak-iyah yang digunakan sebagai bahasa komunikasi antar seusia. Kemudian kedua bahasa enggi-enten sebagai bahasa komunikasi antara yang muda dengan yang tua. Sedangkan jenis ketiga, bahasa enggi-bunten sebagai bahasa komunikasi antara usia muda dengan orang lain yang lebih dihormati. Namun dalam praktek sehari-hari tatanan bahasa tersebut dicampur aduk, karena minimnya bekal pengetahuan yang dimiliki generasi muda," tambahnya.
Sementara itu, Abi Kusno, Kepala Bagian (Kabag) Kurikulum dan Pengembangan Mutu, Dinas Pendidikan (Dispendik) Sampang, menjelaskan, bahwa kurikulum mata pelajaran Bahasa Daerah Madura jamnya memang sangat terbatas. Siswa yang bisa mengenyam pelajaran bahasa daerah hanya di tingkat SD dan SMP dengan jatah waktu 2 jam dalam seminggu. Sedangkan untuk tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), pelajaran bahasa daerah memang tidak di masukkan dalam kurikulum.
"Kita mengakui mata pelajaran bahasa daerah Madura kurang mendapat perhatian serius karena dianggap bukan salah satu mata pelajaran yang penting. Sehingga kita akan mengusahakan agar jam pelajarannya ditambah, serta dimasukkan dalam kurikulum untuk tingkat SMA. Kita berharap dengan dibuatkan Perda tentang bahasa Madura, merupakan salah satu cara untuk mempertahankan kekayaan budaya agar tidak semakin luntur karena terkikis modernisasi," katanya. (rud)
Sumkber: Surabaya Post, Sabtu, 11/02/2012
Tidak ada komentar: